Namanya Clarice Ekasinta Hedipuspita, Clarice dari bahasa Latin yang artinya Cemerlang. Sementara Ekasinta berasal dari bahasa Dayak Ngaju yang artinya Tempat Kecintaan. Dan Hedipuspita, seperti nama belakang saya, merupakan bahasa Jawa serapan dari Sanskrit, kata ayah saya, yang berarti Bunga Keluarga yang Indah. Jadi arti dari nama lengkapnya adalah Bunga Keluarga yang Indah, Tempat Kecintaan yang Cemerlang.
Setelah pengalaman yang indah yang Tuhan anugerahkan pada kelahiran kakaknya, Tuhan melengkapi sukacita kami dengan kehadiran Clarice, Ais.. begitu saya memanggilnya, walau kakaknya tetap memanggilnya Clarice, setahun yang lalu, tepatnya 29 Maret 2009. Keadaan perekonomian keluarga jauh lebih baik, namun di sisi lain saya merasa bahwa perhatian saya kepada Clarice selama masa kehamilan sangat minim. Hal ini disebabkan karena selama kehamilan, Ibunya melakukan perjalanan keliling, dari Salatiga, ke Bandung, ke Palangkaraya dan terakhir, tempat kelahiran Clarice di Salatiga. Sementara saya tinggal dan bekerja di Surabaya. Sejujurnya saya sangat sedih karena dalam keadaan yang lebih baik ternyata saya tidak mampu memberikan perhatian yang lebih baik. Bahkan bisa dikatakan selama 1 tahun ini saya hanya bertemu dengan dia selama kurang lebih 2 bulan saja.
Saat ulang tahunnya ini, saya berdoa kiranya Tuhan beranugerah pada kami, sehingga ada waktu dan perhatian yang cukup yang saya bisa curahkan bagi dia, juga bagi kakaknya dan ibunya. Saya berdoa kiranya Tuhan sendiri yang memberikan hikmat jalan keluar untuk mencapai impian bisa mendidik anak sendiri dengan baik. Kadang saya berpikir, saya di kota mendidik anak-anak orang untuk mengenal Tuhan dan mencintai FirmanNya, tapi waktu saya untuk mengajar anak-anak saya sendiri mengenal dan mencintai Firman Tuhan sangat minim, hanya lewat telepon memimpin doa pagi atau malam, dan pasti dalam satu minggu ada saja absennya.
Clarice Ekasita Hedipuspita. Tuhan memberkati engkau dengan rahmatNya yang besar, memberikan engkau kecemerlangan baik dari fisik, pikiran maupun hatimu.
Baik sama mas Gamal ya.. temani dia, seperti selama ini sudah engkau lakukan dengan mengelus kepalanya setiap kali mas Gamal menangis.. Tuhan memberkatimu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.